IKUTI TERUS PERKEMBANGAN BLOG INI, KARENA ISINYA AKAN SEMAKIN MENARIK..

Friday, November 29, 2013

Merakyat ??? Siapa Takut ???




Oleh : Rahmat

Hari ini Rabu tanggal 27 November 2013 adalah hari dimana saya melakukan kegiatan sosial untuk yang pertama kalinya sebagai seorang mahasiswa dan juga sebagai SekBid Forum Mahasiswa Pontianak (FMP). Turun dengan kondisi tubuh yang kurang fit karena sudah tiga hari menderita batuk dan flu tidak membuat saya mundur begitu saja. Dengan beberapa orang rekan sesama anggota Forum Mahasiswa Pontianak (FMP), saya dan rekan-rekan terlebih dahulu berkumpul di Villa Sepakat II untuk membahas kegiatan sosial ini lebih lanjut. Meski banyak rekan anggota FMP yang tidak bisa hadir karena ada kesibukan tersendiri, kegiatan ini tetap kami laksanakan dengan anggota yang seadanya. Sekitar pukul 15.35 WIB kami berangkat menuju lokasi yang telah kami rencanakan.


Tujuan kami pada hari ini adalah disebuah Yayasan Pendidikan. Yayasan itu bernama Azhabul-Khafi yang tepatnya berada di Jln. Kebangkitan Nasional, Kelurahan Batu Layang Desa Sampah Pembuangan, Kota Pontianak. Waktu tempuh kami ke lokasi tersebut sekitar 25-35 menit ditambah jalanan yang macet disekitar pasar Siantan dan jalan yang berlubang-lubang menuju lokasi. Jika dilihat dari nama desa dan lokasinya, mungkin yang ada dipikiran kita saat ini adalah desa yang penuh dengan sampah-sampah dan kotoran-kotoran yang dapat menyebabkan segala penyakit. Awalnya saya juga berpikiran seperti itu. Tapi setelah saya dan rekan-rekan sampai di tempat tujuan, apa yang terjadi ? Semua yang saya pikirkan ternyata tidak sama. Daerah itu masih asli, hutannya masih bisa dibilang terjaga dari jangkauan penebang liar. Sepanjang jalan tidak saya temukan apa itu yang disebut sebagai sampah.

Yayasan Pendidikan Azhabul-Khafi adalah salah satu contoh kurangnya perhatian pemerintah setempat terhadap dunia pendidikan, karena gedung yang kurang layak pakai, meja dan kursi yang kurang serta alat-alat pendukung yang belum tersedia. Hanya bermodalkan tenaga pengajar dan alat-alat yang seadanya, rasanya mustahil bila lulusannya mampu bersaing dengan dunia luar. Salah satu guru yang kami temui tadi adalah Pak Zurai. Beliau adalah salah satu perintis dari yayasan tersebut. Dulu sebelum ada yayasan itu, rumah beliau lah yang dipakai untuk kegiatan belajar dan mengajar. Pengorbanan beliau sungguh patut untuk dicontoh. Demi membangun sekolah itu, beliau harus mengeluarkan dana pribadi yang seadanya bahkan hasil survei salah seorang Staf FMP bidang Sosial Masyarakat menyebutkan bahwa hutang Pak Zurai disebuah toko bangunan mencapai angka Rp. 17.000.000,00. Sungguh itu adalah angka yang sangat fantastis. Semua itu dilakukan beliau demi terwujudnya pendidikan didaerah itu mengingat jauhnya akses pendidikan.
Sebagai seorang guru tentu beliau harus mempunyai siswa dan siswi untuk diajar. Disini lah timbul masalah baru. Orang tua dari anak-anak usia sekolah tidak bisa berbuat banyak, karena mereka tidak mempunyai biaya untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Apa lagi masyarakat tersebut tergolong kedalam masyarakat ekonomi menengah kebawah sehingga banyak anak-anak mereka yang tidak sekolah bahkan harus putus sekolah. Hal seperti itu sewajarnya dapat kita mengerti. Apa lagi mengingat biaya sekolah yang cukup mahal sekarang ini. Namun disini lah kemulian hati beliau akan diuji. Dan memang benar, sebagai seorang yang memiliki jiwa merakyat dan jiwa sosial yang besar ternyata beliau berani untuk bertindak aparatis yaitu dengan menyatakan bahwa segala ketentuan sekolah yang sifatnya menyangkut biaya akan di gratiskan untuk semua siswa dan siswi. Ya, siswa-siswi yang menjadi murid beliau adalah anak-anak yang putus sekolah dan anak-anak yang bisa dikatakan kurangnya perhatian dari orang tua mereka. Kurang dari 170 siswa-siswi dengan rincian SPAUD, SD (1 kelas) dan SMP (3 kelas) beliau mampu bertahan sampai sekarang meskipun dengan honor yang jauh dibawah standar. Dan bahkan untuk menggaji guru-guru honor yang lain beliau menggunakan uang pribadi dari hasil sterifikasi.

Tidak banyak yang dapat kami tanyakan kepada beliau karena mengingat waktu yang cukup singkat. Dari percakapan dan Tanya jawab yang kami lakukan, saya dapat menyimpulkan bahwa pemerintah memang kurang memperhatikan pendidikan didaerah-daerah terpencil. Tidak bisa kita pungkiri saat ini, kita bisa melihat secara langsung apa yang telah terjadi dibirokrasi pendidikan. Renovasi dan rehabilitasi hanya berlaku untuk kantor-kantor dan gedung-gedung yang masih layak pakai. Apakah semua itu dilakukan untuk meningkatkan kinerja aparatur pemerintahan ? Saya rasa tidak. Itu semua dilakukan tidak sesuai dengan kinerja para aparatur pemerintahan saat ini. Contohnya sudah sangat jelas, kurangnya pendidikan, mutu karakter pelajar yang drastis memalukan, pelayanan-pelayanan masyarakat yang kurang tepat dan lain-lainnya itu adalah contoh yang real disekitar kita.

Sebagai seorang mahasiswa yang bergelut didunia hukum saya mencoba menganalisis masalah-masalah tersebut. Apalagi saya baru menempuh semester satu. Jalan saya masih sangat panjang untuk mengetahui berbagai persoalan yang ada saat ini. Mungkin lima tahun kedepan gelar sarjana hukum telah saya pegang. Tapi apakah saya mampu mengatasi masalah-masalah yang semakin menular pada saat itu ? Pembelajaran sudah dimulai pada saat ini, salah satunya adalah dari Pak Zurai. Beliau sosok yang merakyat, berjiwa sosial tinggi dan seorang yang sangat inspiratif. Karena dengan begitu permasalahan dapat saya antisipasi untuk masa mendatang. Mungkin lima tahun kedepan persaingan individu sudah sangat ketat, tapi jika saya harus merakyat ya siapa takut ? Apa lagi posisi saya di Forum sangat berkaitan dengan masyarakat. Jika lima tahun kedapan saya harus terjun kemasyarakat dengan berjuta-juta karakter, sedikit banyak masalah tersebut telah saya pahami sebelumnya maka yang dapat saya katakan adalah SAYA TELAH SIAP DISAMBUT RAKYAT !!!
Mungkin hanya itulah yang sedikit dapat saya gambarkan dari persoalan-pesoalan yang ada disekitar kita. Semoga dapat membuka dan menambah wawasan kita bersama.

0 komentar:

Post a Comment

no rasis no anarki !!!

Translate

Photo View

Photo View