Hari ini Rabu tanggal
27 November 2013 adalah hari dimana saya melakukan kegiatan sosial untuk yang
pertama kalinya sebagai seorang mahasiswa dan juga sebagai SekBid Forum
Mahasiswa Pontianak (FMP). Turun dengan kondisi tubuh yang kurang fit karena
sudah tiga hari menderita batuk dan flu tidak membuat saya mundur begitu saja.
Dengan beberapa orang rekan sesama anggota Forum Mahasiswa Pontianak (FMP),
saya dan rekan-rekan terlebih dahulu berkumpul di Villa Sepakat II untuk membahas
kegiatan sosial ini lebih lanjut. Meski banyak rekan anggota FMP yang tidak
bisa hadir karena ada kesibukan tersendiri, kegiatan ini tetap kami laksanakan
dengan anggota yang seadanya. Sekitar pukul 15.35 WIB kami berangkat menuju
lokasi yang telah kami rencanakan.
Tujuan kami pada hari
ini adalah disebuah Yayasan Pendidikan. Yayasan itu bernama Azhabul-Khafi yang
tepatnya berada di Jln. Kebangkitan Nasional, Kelurahan Batu Layang Desa Sampah
Pembuangan, Kota Pontianak. Waktu tempuh kami ke lokasi tersebut sekitar 25-35
menit ditambah jalanan yang macet disekitar pasar Siantan dan jalan yang
berlubang-lubang menuju lokasi. Jika dilihat dari nama desa dan lokasinya,
mungkin yang ada dipikiran kita saat ini adalah desa yang penuh dengan sampah-sampah
dan kotoran-kotoran yang dapat menyebabkan segala penyakit. Awalnya saya juga
berpikiran seperti itu. Tapi setelah saya dan rekan-rekan sampai di tempat
tujuan, apa yang terjadi ? Semua yang saya pikirkan ternyata tidak sama. Daerah
itu masih asli, hutannya masih bisa dibilang terjaga dari jangkauan penebang
liar. Sepanjang jalan tidak saya temukan apa itu yang disebut sebagai sampah.
Yayasan Pendidikan
Azhabul-Khafi adalah salah satu contoh kurangnya perhatian pemerintah setempat
terhadap dunia pendidikan, karena gedung yang kurang layak pakai, meja dan
kursi yang kurang serta alat-alat pendukung yang belum tersedia. Hanya
bermodalkan tenaga pengajar dan alat-alat yang seadanya, rasanya mustahil bila
lulusannya mampu bersaing dengan dunia luar. Salah satu guru yang kami temui
tadi adalah Pak Zurai. Beliau adalah salah satu perintis dari yayasan tersebut.
Dulu sebelum ada yayasan itu, rumah beliau lah yang dipakai untuk kegiatan
belajar dan mengajar. Pengorbanan beliau sungguh patut untuk dicontoh. Demi
membangun sekolah itu, beliau harus mengeluarkan dana pribadi yang seadanya
bahkan hasil survei salah seorang Staf FMP bidang Sosial Masyarakat menyebutkan
bahwa hutang Pak Zurai disebuah toko bangunan mencapai angka Rp. 17.000.000,00.
Sungguh itu adalah angka yang sangat fantastis. Semua itu dilakukan beliau demi
terwujudnya pendidikan didaerah itu mengingat jauhnya akses pendidikan.
Sebagai seorang guru tentu
beliau harus mempunyai siswa dan siswi untuk diajar. Disini lah timbul masalah
baru. Orang tua dari anak-anak usia sekolah tidak bisa berbuat banyak, karena
mereka tidak mempunyai biaya untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Apa lagi
masyarakat tersebut tergolong kedalam masyarakat ekonomi menengah kebawah
sehingga banyak anak-anak mereka yang tidak sekolah bahkan harus putus sekolah.
Hal seperti itu sewajarnya dapat kita mengerti. Apa lagi mengingat biaya
sekolah yang cukup mahal sekarang ini. Namun disini lah kemulian hati beliau
akan diuji. Dan memang benar, sebagai seorang yang memiliki jiwa merakyat dan
jiwa sosial yang besar ternyata beliau berani untuk bertindak aparatis yaitu
dengan menyatakan bahwa segala ketentuan sekolah yang sifatnya menyangkut biaya
akan di gratiskan untuk semua siswa dan siswi. Ya, siswa-siswi yang menjadi
murid beliau adalah anak-anak yang putus sekolah dan anak-anak yang bisa
dikatakan kurangnya perhatian dari orang tua mereka. Kurang dari 170
siswa-siswi dengan rincian SPAUD, SD (1 kelas) dan SMP (3 kelas) beliau mampu
bertahan sampai sekarang meskipun dengan honor yang jauh dibawah standar. Dan
bahkan untuk menggaji guru-guru honor yang lain beliau menggunakan uang pribadi
dari hasil sterifikasi.
Tidak banyak yang dapat
kami tanyakan kepada beliau karena mengingat waktu yang cukup singkat. Dari
percakapan dan Tanya jawab yang kami lakukan, saya dapat menyimpulkan bahwa
pemerintah memang kurang memperhatikan pendidikan didaerah-daerah terpencil. Tidak
bisa kita pungkiri saat ini, kita bisa melihat secara langsung apa yang telah
terjadi dibirokrasi pendidikan. Renovasi dan rehabilitasi hanya berlaku untuk
kantor-kantor dan gedung-gedung yang masih layak pakai. Apakah semua itu
dilakukan untuk meningkatkan kinerja aparatur pemerintahan ? Saya rasa tidak.
Itu semua dilakukan tidak sesuai dengan kinerja para aparatur pemerintahan saat
ini. Contohnya sudah sangat jelas, kurangnya pendidikan, mutu karakter pelajar
yang drastis memalukan, pelayanan-pelayanan masyarakat yang kurang tepat dan
lain-lainnya itu adalah contoh yang real disekitar kita.
Sebagai seorang mahasiswa
yang bergelut didunia hukum saya mencoba menganalisis masalah-masalah tersebut.
Apalagi saya baru menempuh semester satu. Jalan saya masih sangat panjang untuk
mengetahui berbagai persoalan yang ada saat ini. Mungkin lima tahun kedepan
gelar sarjana hukum telah saya pegang. Tapi apakah saya mampu mengatasi
masalah-masalah yang semakin menular pada saat itu ? Pembelajaran sudah dimulai
pada saat ini, salah satunya adalah dari Pak Zurai. Beliau sosok yang merakyat,
berjiwa sosial tinggi dan seorang yang sangat inspiratif. Karena dengan begitu
permasalahan dapat saya antisipasi untuk masa mendatang. Mungkin lima tahun
kedepan persaingan individu sudah sangat ketat, tapi jika saya harus merakyat
ya siapa takut ? Apa lagi posisi saya di Forum sangat berkaitan dengan
masyarakat. Jika lima tahun kedapan saya harus terjun kemasyarakat dengan
berjuta-juta karakter, sedikit banyak masalah tersebut telah saya pahami
sebelumnya maka yang dapat saya katakan adalah SAYA TELAH SIAP DISAMBUT RAKYAT
!!!
Mungkin hanya itulah
yang sedikit dapat saya gambarkan dari persoalan-pesoalan yang ada disekitar
kita. Semoga dapat membuka dan menambah wawasan kita bersama.

0 komentar:
Post a Comment
no rasis no anarki !!!