IKUTI TERUS PERKEMBANGAN BLOG INI, KARENA ISINYA AKAN SEMAKIN MENARIK..

Saturday, January 11, 2014

Sosok Dino Patti Djalal dan Gagasannya


Tema : “ Sosok Dino Patti Djalal dan Gagasannya “
Judul : “ Sekilas Info Tentang Sang Diplomatik Muda Indonesia “

Dino Patti Djalal lahir di Beograd, Yugoslavia, 10 September 1965. Beliau adalah Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat. Dino lahir dari pasangan Hasyim Djalal (ayah) dan Jurni (ibu). Orang tuanya berasal dari Ampek Angkek, Agam, Sumatera Barat. Ayahnya, Hasyim Djalal, juga merupakan seorang diplomat Indonesia ternama. Kariernya dimulai tahun 1987 ketika masuk Departemen Luar Negeri. Berbagai penugasan penting pernah diemban, antara lain sebagai Jubir Satgas P3TT (Pelaksana Penentuan Pendapat di Timor Timur), Kepala Departemen Politik KBRI Washington dan Direktur Amerika Utara dan Tengah Departemen Luar Negeri. Ia sempat menjabat sebagai Direktur Urusan Amerika Utara dan Amerika Tengah di Departemen Luar Negeri Republik Indonesia, sebelum akhirnya bersama Andi Mallarangeng kemudian ditunjuk sebagai juru bicara Presiden ketika Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden Indonesia. Pendidikannya bermula dari SD dan SMP Al Azhar, kemudian dia melanjutkan pendidikan ke McLean High School, Amerika Serikat, kemudian pendidikan S-1 ke Universitas Carleton. Gelar M.A. diraihnya dari Universitas Simon Frazer di Kanada hingga kemudian meraih gelar doktor bidang hubungan internasional di London School of Economics and Political Science.
Beruntung pula, dia mempunyai ayah yang memikirkan masa depannya. Dia merasa sejak bayi sudah diprogra
m dan di-brainwash menjadi diplomat. Pada saat makan bersama, misalnya, dia selalu diajak berdiskusi mengenai masalah politik internasional. Saat nonton TV, dia selalu diminta memberikan komentar. Lebih terarah lagi, ayahnya sering mengajaknya membuat konsep pidato dan juga memberikan kesempatan kepadanya untuk bekerja sebagai pelayan di resepsi diplomatik. Membaca juga diwajibkan oleh ayahnya. Karena itu, jika dia minta uang untuk membeli baju dan sepatu, hampir dipastikan akan dipersulit jika dibandingkan untuk membeli buku. Dia mengaku tidak tertekan dengan apa yang dilakukan ayahnya. Mengapa? Dia sendiri bercita-cita menjadi diplomat, selain menjadi guru. Sebagai wujud ketertarikannya di dunia diplomatik, jurusan yang diambil sewaktu kuliah adalah jurusan ilmu politik dan hubungan internasional. Kebetulan, dua cita-cita itu diraihnya. Untuk diketahui, sebelum menjadi diplomat, dia pernah menjadi asisten dosen di sebuah perguruan tinggi di Kanada. Apa yang membuatnya suka pada dunia diplomatik? Sebagai diplomat, dia jelas terlibat dalam hubungan antarbangsa, komunikasi antarbudaya, menyelesaikan konflik, menghubungkan diplomasi dengan kepentingan masyarakat, seperti masalah kerja sama pendidikan, mengurusi visa ke luar negeri. Semuanya ada sentuhan pada kepentingan masyarakat. Hal-hal seperti itulah yang menarik minatnya. Selama menjalani profesi diplomat, dia sering mendapatkan pengalaman yang menurutnya sangat mengesankan dan berarti. Dia bercerita, dirinya merasa menjadi diplomat sungguhan saat mendampingi Wiryono yang saat itu menjabat Dirjen Politik Deplu untuk menengahi konflik Kamboja (1991). Bukan hanya lika-liku diplomatiknya yang dirasakan langsung, tapi apa yang dilakukannya telah menyelamatkan ribuan, bahkan jutaan orang di negara Indo-China itu di masa mendatang. Dikatakannya, dengan satu aksi diplomatik, pihak Indonesia bisa mempengaruhi kondisi suatu masyarakat secara makro dan untuk masa yang panjang. Setelah berselang 12 tahun, dirinya kembali ke Kamboja menghadiri KTT ASEAN. Di waktu luang setelah KTT selesai, dia iseng-iseng menyewa ojek untuk berkeliling kota Kamboja. Nah, saat itu si tukang ojek menanyakan asalnya dan dia menjawab dari Indonesia. Tanpa diduga, si tukang ojek itu langsung mengacungkan jempol sembari menyatakan bahwa kalau tidak ada Indonesia dan Ali Alatas, Kamboja tetap perang hingga sekarang.
Pengalaman berharga lain dia dapatkan pada 1990 saat menangani persoalan Laut China Selatan. Sejak tahun itu hingga 2000, dia menjadi anak buah langsung dari ayahnya yang seorang pakar hukum laut internasional. Selain pengalaman manis, dia pernah merasakan pengalaman pahit. Yakni, saat tugas yang dia lakukan tidak berhasil seperti diharapkan bangsa ini. Pengalaman itu terjadi saat dirinya ditunjuk menjadi Jubir Satgas P3TT (Pelaksana Penentuan Pendapat di Timtim). Jika sewaktu kuliah, dia sering berteori dan kalau salah membuat analisis, tidak ada risikonya. Paling-paling, hanya mendapat nilai C. Tapi di Timtim, dia merasakan bangsa ini telah melakukan miskalkulasi, dengan dampak yang sampai sekarang masih harus ditanggung. Kesalahan kalkulasi itu di antaranya tidak mengantisipasi terjadinya kerusuhan atau pelanggaran HAM setelah jajak pendapat. Secara pribadi, dia menilai miskalkulasi disebabkan terlalu dipaksakannya timetable jajak pendapat. Presiden Habibie saat itu menginginkan Timtim harus tuntas pada 2000 sebelum pemerintahannya berakhir. Jika saat itu ada fleksibilitas dan tidak terpenjara timetable, dia berani memastikan pemerintah dapat meng-handle situasi. Bayangkan, waktu itu dicapai kesepakatan untuk melakukan jajak pendapat pada Agustus. PBB siap karena dipikir Agustus tahun depan. Ternyata Agustus beberapa bulan lagi, mereka pun sangat kaget. Dari berbagai pengalaman itu, Beliau akhirnya diangkat menjadi kepala Departemen Politik KBRI di Washington DC AS pada 2000. Selang dua tahun, karirnya pun menanjak. Dia ditarik ke Jakarta dan dipercaya memegang jabatan direktur Amerika Utara dan Tengah hingga saat ini.
   Sebuah gagasan cemerlang untuk Indonesia muncul dari Dr. Dino Patti Djalal yang mengusung slogan ‘Indonesia Unggul’. Sesuai dengan judul buku yang baru dirilis oleh beliau, Indonesia Unggul memang bukan hanya sebuah slogan biasa. Indonesia Unggul adalah sebuah semangat, etos hidup, karakter,  sekaligus resep sukses yang Dino sendiri percaya dapat mendorong Indonesia mewujudkan impiannya menjadi raksasa Asia. Dalam mewujudkan impian tersebut, digagaskan oleh Beliau, bahwa harus terjadi adanya perubahan dan perilaku dalam diri masyarakat. Dengan menjadi sebuah agen perubahan, Indonesia dapat berkembang menjadi negara unggul di dalam maupun luar negeri.  Ada satu kutipan dari beliau yang amat saya sukai, yaitu "Shine through your achievement. Anda boleh saja merasa diri unik, nyentrik, dan hebat, namun tanpa suatu prestasi Anda tidak akan dianggap orang,". Menurut saya ini bukan berlaku terhadap diri sendiri saja, tetapi juga berlaku terhadap bangsa ini. Dengan prestasi yang dapat mengharumkan nama Indonesia lah, Indonesia dapat dianggap unggul oleh bangsa lain. Misalkan Republik Rakyat Cina, yang hampir di setiap cabang  olahraga nya menuai prestasi, mengapa kita belum bisa seperti itu? Mengapa masa-masa berprestasi Indonesia di bidang olahraga seperti surut? Apabila rasa nasionalisme yang sudah mulai terlupakan kembali tumbuh dengan keinginan untuk menjadi bangsa yang unggul, misalnya di bidang olahraga, sebenarnya sangat mungkin masa kejayaan lampau dapat kembali diraih di abad ke-21 ini. Baru kemarin kita lihat fenomena tim bola Indonesia yang berhasil meraih medali perak di ajang Sea Games 2013, walaupun tak berhasil meraih emas, setidaknya rasa cinta tanah air para pendukung dan pemain juga ikut berandil besar dalam mengantarkan prestasi tersebut. Dibidang lain pun Indonesia dapat mewujudkan impiannya sebagai raksasa Asia, didorong oleh semangat yang bersumber dari slogan ‘Indonesia Unggul’, walau secara perlahan tapi pasti.
                Dino Patti Djalal sendiri, menurut saya, adalah sosok yang dapat dibilang sangat berprestasi sebagai individu. Bagaimana tidak? Semenjak kecil beliau sudah rela bekerja menjadi tukang cuci piring, menjadi pekerja di gudang KBRI Amerika Serikat, dan dengan kerja keraslah, sekarang beliau dapat menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat semenjak 2010. Sosok Dino Patti Djalal sewaktu muda, yang terinspirasi terjun ke dunia politik dan diplomasi setelah menemukan buku ‘Di Bawah Bendera Revolusi’ yang berisi kumpulan pidato dan tulisan Bung Karno, juga tak malu untuk mengambil pekerjaan sambilan sebagai pelatih tenis, penjaga tiket bioskop, towel boy di tim basket, dan asisten dosen, tak lain karena beliau tidak ingin merengek meminta uang pada orang tua. Padahal ayahanda beliau, Hasyim Djalal, adalah seorang wakil duta besar kala itu. Ternyata pengalaman bekerja di berbagai bidang sewaktu muda itulah yang dapat membentuk sosok Dino seperti sekarang, bertanggung jawab, disiplin, dan menghargai aturan.
(diambil dari berbagai sumber bacaan).

0 komentar:

Post a Comment

no rasis no anarki !!!

Translate

Photo View

Photo View